Pages

Senin, 04 Juni 2012

mempelajari ciri-ciri dan macam jaringan epitel



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Seperti halnya tumbuhan, tubuh hewan vertebrata juga tersusun atas berbagai macam jaringan. Jaringan tersebut telah mengalami spesialisasi fungsi. Sel-sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama akan membentuk suatu jaringan. Contohnya jaringan otot, saraf, dan epitel. Selanjutnya, berbagai macam jaringan yang mempunyai fungsi tertentu akan membentuk suatu organ. Contohnya, organ hati, ginjal, dan jantung. Beberapa organ akan bekerja sama untuk melakukan fungsi tertentu yang disebut sistem organ. Contohnya, sistem pencernaan makanan  dan peredaran darah. Berbagai macam sistem organ akan membentuk tubuh. Pada hewan multiseluler, dikenal empat jenis jaringan dasar, yaitu jaringan epitel, jaringan penyambung atau jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf. Jaringan epitel merupakan kumpulan sel-sel yang saling berikatan erat sehinga membentuk lapisan sel yang menutupi permukaan tubuh atau organ tubuh dan melapisi rongga-rongga, dan menyusun kelenjar-kelenjar. Jaringan epitel memiliki beberapa macam bentuk yang berbeda pada setiap tempatnya.
Berdasarkan hal tersebut, praktikum ini dilakukan agar dapat lebih memahami tentang jaringan epitel (bentuk, fungsi, serta letaknya).

B.       Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah :
1.    Mempelajari ciri-ciri jaringan epitel
2.    Mempelajari struktur histologis macam-macam jaringan epitel




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Adnan (2008), jaringan epitel memiliki beberapa sifat khusus, antara lain, bentuk sel-sel teratur dan umumnya berbentuk pipih, kubus, atau silindris; sel-sel tersusun dengan sangat rapat; semua jaringan epitel terikat erat pada jaringan ikat yang ada di bawahnya oleh suatu selaput tipis yang disebut lamina basal; dan tidak mengandung pembuluh darah. Fungsi jaringan epitel antara lain:
·      Sebagai lapisan pelindung, baik terhadap pengaruh mekanis, fisik, maupun kimiawi, misalnya epitel yang terdapat pada kulit,
·      Sebagai organ eksteroreseptor yang mampu menerima rangsangan dari luar, seperti sel-sel neuroepitel pada kuncup pengecap,
·      Sebagai alat ekskresi untuk membuang sisa-sisa hasil metabolisme (amoniak, air, dan karbon dioksida),
·      Sebagai alat osmoregulasi atau pengatur tekanan osmosis cairan tubuh dengan cara membuang garam-garam melalui permukaan kulit,
·      Sebagai alat proses respirasi, khususnya pada hewan-hewan akuatik,
·      Sebagai alat gerak, misalnya sayap pada kelelawar dan selaput renang pada katak sawah,
·      Sebagai alat nutrisi, misalnya kelenjar susu pada mamalia,
·      Sebagai alat absorbsi, misalnya absorbsi sari-sari makanan pada dinding usus,
·      Sebagai alat pembentukan vitamin D dari provitamin D dengan bantuan cahaya matahari.

Berdasarkan struktur dan fungsinya, jaringan epitel dibagi menjadi dua kelompok, yaitu epitel penutup dan epitel kelenjar. Berdasarkan bentuk sel yang menyusunnya, jaringan epitel dibedakan atas epitel pipih (berbentuk pipih), epitel kubus (berbentuk seperti kubus), dan epitel silindris (berbentuk silinder). Sedangkan, berdasarkan jumlah lapisan yang menyusunnya, jaringan epitel dibedakan atas jaringan epitel selapis, epitel berlapis, epitel peralihan, dan epitel berlapis semu (Adnan, 2008).
Menurut Penuntun Praktikum Histologi Hewan (2012), macam-macam bentuk epitel berdasarkan sel-sel yang menyusunnya yaitu:
1.    Epitel gepeng selapis (epithelium squamous), misalnya terdapat pada permukaan dalam membran tympani, lamina parietalis, capsula bowmani, rete testis, pars descendes ansa henlei pada ginjal, mesotil yang membatasi rongga serosa , endotel yang membatasi permukaan sistem peredaran, duktus alveolaris dan alveoli paru-paru.
2.    Epitel kuboid selapis (epithelium cuboideum simplex), dapat dijumpai pada pleksus coroideus, diventriculus otak, folikel glandula thyreoidia, epithelium germanitivum, pada permukaan ovarium, epithelium pigmentosum retinae dan duktus ekskretorius beberapa kelenjar.
3.    Epitel silindris selapis (epithelium cilindricum simplex), dapat ditemukan pada permukaan selaput lendir tractus digestivus dari lambung sampai anus, vesica fellea, dan ductus excretorius beberapa kelenjar.
4.    Epitel gepeng berlapis (epithelium squamosum complex), dapat ditemukan pada cavum oris, vagina, cornea, conjunctiva, urethra feminine, esophagus, dan epidermis kulit.
5.    Epitel silindris berlapis (epithelium cilindricum complex), dapat ditemukan pada peralihan oropharing ke laring, fornix conjunctivae, urethra pars cavernosa, dan ductus excretorius beberapa kelenjar.
6.    Epitel cuboid berlapis (epithelium cuboideum complex), dapat dijumpai pada ductus excretorius glandula parotis dan dinding anthrum folliculi ovarii.
7.    Epitel silindris bertingkat/berlapis semu (epithelium cilindricum pseudocomplex), dapat dijumpai pada trachea, bronchus yang besar, dan ductus deferens.
8.    Epitel transisional (transisional epithelium), dapat ditemukan pada permukaan kandung kemih dan juga saluran kemih mulai dari calyces renales sampai sebagian dari urethra.
Epitel dapat berkembang dari ketiga lapisan embrional. Epitel yang melapisi kulit, mulut, hidung, dan anus berasal dari ektoderm. Pelapis sistem pernapasan, saluran cerna, dan kelenjar dari saluran cerna (misalnya pancreas dan hati) berasal dari endoderm. Epitel lainnya (misalnya, endotel pelapis pembuluh darah) berasal dari mesoderm. Pada umumnya mesoderm ini akan menjadi jaringan pengikat atau otot. Epitel yang berbentuk membran dan berasal dari mesoderm terbagi dua macam, yaitu endothelium dan mesothelium. Endotel merupakan susunan sel-sel yang membatasi permukaan dalam pembuluh darah, jantung dan pembuluh limfa. Sedangkan mesotel merupakan susunan sel-sel yang membatasi rongga tubuh yang besar yang menutupi beberapa organ tertentu seperti yang melapisi peritoneum, pleura, dan pericardium (Penuntun Praktikum Histologi Hewan, 2012).
Menurut Anonim (2011), sel-sel pada epitel selapis pipih berbentuk pipih dan sangat datar menyerupai sisik. Dilihat dari permukaan tampak sebagai sel-sel yang cukup besar dengan sitoplasma yang jernih. Dilihat dari samping tampak seperti pita yang bersekat-sekat dengan inti pipih yang terletak pada bagian tengah. Epitel selapis pipih terdiri atas epitel squamosa, mesotalium, dan endothelium.
a.    Epitel Squamosa; yaitu epitel selapis pipih yang berasal dari ektoderm, misalnya epitel pada kapsul bowman.
b.    Mesotalium; yaitu epitel selapis pipih yang berasal dari mesoderm, misalnya
pericardium yang membatasi rongga jantung dan pleurotenium yang membatasi rongga paru-paru.
c.    Endothelium; yaitu epitel selapis pipih yang berasal dari endoderm, misalnya endothelium pembuluh darah dan endothelium pada pembuluh limfa.

Jaringan epitel batang selapis terdiri atas sel-sel panjang berbentuk tiang. Epitel batang selapis terdapat di lapisan saluran pencernaan makanan (esophagus, lambung, usus), uterus, dan kantong empedu. Sel epitel ini dapat mengeluarkan mukosa yang berguna untuk melindungi dinding lambung dari asam lambung dan enzim serta melicinkan makanan ketika melewati usus. Sel epitel yang secara khusus mensekrese mukosa disebul sel goblet (Anonim, 2011).
Jaringan tulang rawan (cartilago) terdiri dari serat berkolagen dan matriks mirip karet yang tersusun dari bahan kondroitin sulfat. Kondroitin sulfat dan serabut kolagennya disekresikan oleh  kondosit, yaitu set yang terdapat pada lakuna (rongga) pada tulang rawan. Kombinasi kolagen dan kondroitin sulfat membuat tulang rawan menjadi jaringan yang kuat tetapi fleksible. Jaringan tulang rawan yang terletak pada  hidung dan telinga disebut kartilago elastis, pada cincin-cincin trakea disebut kartilago hyaline dan pada lempengan antarvertebra disebut cartilage fibrosa. Jaringan tulang rawan dibungkus oleh selaput fibrosa yang disebut perikondrium. Contohnya ikan hiu yang rangkanya terbuat dari tulang rawan. Pada masa embrionik, sebagian vertebrata juga berkerangka tulang rawan yang kemudian berganti menjadi tulang sejati (Anonim, 2009)


BAB III
METODOLOGI
A.      Waktu dan tempat
Adapun waktu dan tempat dari praktikum ini yaitu :
Hari/Tanggal  :  Kamis, 01 Maret 2012 
Waktu            :  13:30 WITA - selesai
Tempat           : Laboratorium Biodiversity jurusan Biologi FMIPA UNTAD
B.       Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu :
1.    Alat
-       Mikroskop
-       Buku gambar
-       Alat tulis
2.    Bahan
-       Preparat jaringan epitel squamosum
-       Preparat jaringan epitel silindris
-       Preparat jaringan hyalin cartilago
C.      Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang harus diperhatikan pada praktikum kali ini adalah :
1.    Menyediakan mikroskop.
2.    Memasang preparat (jaringan epitel squamosum atau epitel silindris), kemudian mengamatinya dengan perbesaran 10 x 10 atau 40 x 10.
3.    Menggambar jaringan yang diamati, selanjutnya memberi keterangannya.



BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.      Hasil Pengamatan
No
Gambar
Keterangan
1
Epitel Silindris
 


                                                                  3

 

                                                                2
 


                         
                                1                  4
1.      Lumen
2.      Epitel colummer
3.      Sel Gobel
4.      Lamia basalis
2
Epitel Squamosa


3
2
Jaringan ikat (Hyelin Cartilago)
 

                               
 








3
1
1.    Serat kolagen
2.    Lamina basalis
3.    Vili
-          Lakuna, lakuli, dan conal havers. Tidak terlihat jelas.

B.       Pembahasan
Jaringan epitel adalah jaringan pelapis yang menyelubungi atau melapisi permukaan organ, rongga dan saluran, baik di luar maupun di dalam tubuh. Jaringan epitel berfungsi untuk melindungi jaringan yang ada di bawahnya dan berfungsi untuk menutupi tubuh dan ronggga tubuh dari kerusakan, mengangkut zat-zat masuk dan keluar serta menerima rangsangan.
Jaringan epitel yang melapisi lapisan luar tubuh disebut epitelium atau epidermis. Sedangkan jaringan epitel yang membatasi rongga dalam tubuh disebut mesotelium. Dan jaringan epitel yang membatasi permukaan bagian dalam rongga suatu organ disebut endotelium.
Pada praktikum kali ini, dilakukan pengamatan pada jaringan epitel silindris dan jaringan epitel squamosa serta jaringan ikat (hyalin cartilago). Pengamatan epitel silindris dan hyalin cartilago dilakukan dengan menggunakan mikroskop dengan menggunakan perbesaran 10x10 dan 40x10, dapat diketahui pada jaringan epitel silindris terdapat bagian-bagian yaitu; lumen, epitel columer, sel goblet, serta lamina basalis yang berfungsi sebagai pelekat dan pengikat jaringan epitel ke jaringan pengikat dibawahnya dan sebagai penyalur nutrisi.  pada potongan tegak lurus, tampak bentuk sel yang memanjang. Sedangkan untuk nukleusnya tidak terlihat jelas. Hal ini dikarenakan preparat yang digunakan sudah cukup lama sehingga membuat bagian-bagiannya tidak terlihat jelas. Perbedaan nukleus dengan sel goblet adalah nukleus merupakan inti sel, sedangkan sel goblet merupakan salah satu penyusun dari jaringan epitel silindris dimana fungsinya untuk menghasilkan mukus.
Pengamatan pada jaringan epitel squamosa (pipih) yang berada di usus, terlihat sel-sel penyusunnya berbentuk pipih seperti sisik-sisik ikan beserta nukleusnya (inti sel), dan di atasnya terdapat vili-vili dimana fungsinya untuk menyerap sari-sari makanan, dan di bawahnya terdapat lamina basalis yang fungsinya untuk melekatkan jaringan epitel tersebut ke jaringan pengikat yang ada dibawahnya.
Pengamatan selanjutnya pada hyalin cartilago, dimana jaringan ini tidak termasuk dalam jaringan epitel yang merupakan judul dari praktikum kali ini. Jaringan hyalin kartilago merupakan jaringan ikat yang membentuk mineral rangka yang fleksibel dan kuat terdiri atas bagian-bagian yaitu; adanya serat kolagen yang tertanam di dalam matriks, lamina basial dan vili. Sedangkan untuk lakuna, lakuli, dan canal havers tidak terlihat cukup jelas. Hal ini disebabkan karena preparat dan alat yang digunakan kurang memadai serta kurangnya ketelitian praktikan dalam melakukan pengamatan.
Jika dibandingkan dengan literatur, pada umumnya apa yang kita amati adalah sama atau sesuai dengan literatur. Hanya saja ada sedikit  ketambahan, dimana penyusun jaringan epitel silindris memiliki bentuk sel yang bervariasi serta tingkat susunan yang berbeda-beda. Hal ini  karena kurangnya ketelitian praktikan dalam melakukan pengamatan dan preparat yang digunakan sudah tidak dapat menunjang kegiatan praktikum.



BAB V
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Adanya kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1.    Jaringan epitel memiliki ciri-ciri yaitu sel-sel penyusunnya saling berkaitan erat sehingga membentuk lapisan sel, bentuk sel dan bentuk inti yang berfariasi, memiliki lamina basalis, dan mempunyai permukaan sel yang disesuaikan dengan fungsi.
2.    Jaringan epitel memiliki bentuk sel yaitu epitel pipih (squamosa), epitel kubus (koboidal), dan epitel silindris.
3.    Jaringan epitel silindris memiliki bagian-bagian yang meliputi lumen, epitel columner, sel goblet, dan lamina basalis. Sedangkan hyalin kartilago memiliki bagian-bagian yang meliputi serat kolagen, lamina basial, dan vili.
4.    Dari hasil pengamatan jaringan epitel silindris sedikit berbeda dengan literatur.

B.  Saran
Untuk praktikum selanjutnya diharapkan kepada asisten ataupun laboran agar dapat melengkapi bahan-bahan yang akan digunakan dalam praktikum sehingga dapat tercapai tujuan dari praktikum.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar