Pages

Sabtu, 26 Mei 2012

daun majemuk dan daun tunggal


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penyusunan laporan ini merupakan hasil dari kegiatan praktikum yang telah dilakukan didalam laboratorium  yang disusun secara lengkap agar kita sebagai mahasiswa mengetahui dan memahami serta lebih mengerti ilmu yang telah kita pelajari dalam kegiatan praktikum didalam laboratorium.
Praktikum morfologi tumbuhan untuk materi daun majemuk dan daun tunggal dilaksanakan dengan tujuan yaitu untuk melengkapi dan mengaplikasikan mata kuliah yang telah diterima dalam kegiatan perkuliahan sehingga kita dapat lebih memahami morfologi tumbuhan secara langsung melalui kegiatan praktikum. Selain itu, melalui kegiatan praktikum kita dapat melihat secara langsung dan nyata bagian-bagian dari morfologi tumbuhan itu sendiri sehingga kita dapat mengetahui sejauh mana pemahaman kita tentang morfologi tumbuhan dan kita dapat menanyakan hal-hal apa saja yang belum kita pahami tentang morfologi tumbuhan. Melalui kegitan praktikum ini pula kita dapat mengetahui dan lebih memahami  daun majemuk  dan daun tunggal.


B.     TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum morfologi tumbuhan yaitu mempelajari bermacam-macam tipe daun majemuk serta membedakan antara daun majemuk dengan daun tunggal.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.      Mawar (Rosa sinensis)
A.    Morfologi
Rosa sinensis (bunga mawar) merupakan daun majemuk (folium compositum) menyirip gasal sempurna yakni satu anak daun yang menutup ujung ibu tangkai daunnya. Pada anak daunnya berpasangan sedangkan pada ujung ibu tangkai daun terdapat anak yang tersendiri.
Circumscriptio (bangun daunnya) yaitu bulat telur (ovatus) karena memiliki perbandingan 1 : 1, interveniumnya (daging daun) papyraceus (seperti kertas), nervatio (tulang daunnya) menyirip (penninervis) karena pada helaian daun terdapat ibu tulang daun dan pada tulang daun tersebut keluar cabang-cabang lagi. Pada margo folii (tepi daunnya) adalah serratus (bergerigi), basis folii (pangkal daun) acutus (runcing), sedangkan apex folii (ujung daunnya) adalah acutus (runcing). Pada permukaan daun adalah berkerut (rugosus), sedangkan tata latak atau duduk daunnya adalah menyebar (folio sparsa) yang letakanya tidak beraturan. (Gombang, 1985).

B.     Klasifikasi
Rosa sinensis  memiliki tingkatan atau klasifikasi sebagai berikut :
Ø  Kingdom              : Plantae
Ø  Devisio                : Spermatophyta
Ø  Kelas                    : Monocotyledoneae
Ø  Ordo                     : Rosales
Ø  Family                  : Rosaceae
Ø  Genus                   : Rosa
Ø  Spesies                 : Rosa sinensis
(Plantamor, 2011).

C.    Ekologi
Rosa sinensis merupakan tanaman yang dapat hidup pada daerah tropis dan subtropis serta banyak tersebar di wilayah Alaska, India, dan Indonesia. Tanaman ini sangat menyukai daerah yang beriklim tropis yang  memiliki curah hujan antara 500 – 3000 mm3 /tahun dengan adaptasi yang sangat luas. Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah yang memiliki kelembapan + 70% – 80% dengan suhu berkisar 25oC - 35oC. Pada tanah yang berpasir dan gembur tanaman ini dapat tumbuh dengan baik dan dapat pula tumbuh pada tanah dengan pH berkisar 5 – 7,0 serta pada ketinggian tanah sekitar 500 – 8000 m diatas permukaan laut. (Anonim, 2011).
D.    Nilai medis
Rosa sinensis mempunyai manfaat dibidang kesehatan karena akarnya banyak mengandung zat kimia yang dapat dijadikan suatu ramuan obat – obatan tradisional. Akar mawar mengandung beberapa zat kimia diantaranya flavonoida, saponin, polifenol dan timin, yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit bisul, berek, membantu pada persalinan dan menghilangkan rasa nyeri pada lambung. (Anonim, 2011).
E.     Nilai komersial
Rosa sinensis memiliki nilai komersial yang cukup tinggi karena bunganya banyak digemari oleh masyarakat dan digunakan sebagai tanaman hias dengan harga jual yang tinggi yakni berkisar Rp 25.000 – Rp 65.000 tergatung dari kualitas dan jenis bungannya. Selain itu bunga mawar digunakan pula sebagai wangi-wangian atau parfum yang harga jualnya sekitar Rp 4.500 – Rp 12.000. (Anonim 2011).
2.      Mangga (Mangifera indica)
A.    Morfologi
Mangga (Mangifera indica) merupakan tumbuhan yang memiliki daun tunggal karena pada satu daunnya hanya terdapat satu helaian daun saja (folium simplex). Selain itu daun mangga memiliki bentuk pertulangan daun (nervatio) yaitu menyirip (penninervis), memiliki bentuk daun (circumscriptio) memanjang (oblongus), karena perbandingan panjang dan lebar daunnya adalah 2 1/2 -  3 : 1, bentuk ujung daunnya (apex folii) acutus (runcing), pangkal daunnya (basis folii) pada tumbuhan ini yaitu acutus (runcing), memiliki permukaan daun yang kasap (scaber), bentuk tepi daunnya (margo folii) tidak bertoreh atau rata (integer), memiliki daging daun  (intervenium) seperti perkamen (perkamenteus) karena daunnya tipis tetapi cukup kaku, serta memiliki duduk daun tersebar karena pada tiap-tiap buku daunnya terdapat satu daun. (Gombang, 1985).

B.     Klasifikasi
Mangga (Mangifera indica) memiliki tingkatan atau klasifikasi sebagai berikut:
Ø  Kindom             :  Plantae
Ø  Devisio              :  Spermatophyta
Ø  Kelas                 :  Dicotyledoneae
Ø  Ordo                  :  Sapindales
Ø  Famili                :  Anacardiaceae
Ø  Genus                :  Mangifera
Ø  Spesies              :  Mangifera indica
(Plantamor, 2011).
C.    Ekologi
Mangga merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari India. Tanaman ini kemudian menyebar Malaysia dan Indonesia. Mangga dapat tumbuh pada daerah yang memiliki curah hujan sekitar 1000 – 2000 mm3/ tahun dengan ketinggian sekitar 1.200 m diatas permukaan laut. Tumbuhan ini memiliki batang sedang dan tingginya mencapai 25 m. Suhu udara yang cocok untuk tanaman ini yaitu 22 0C – 26 0C dan kelembapan udara sekitar 45% serta angin yang tidak teralu kencang sangat baik untuk penyerbukan bagi tanaman ini. Mangga  dapat tumbuh dengan baik pada beragam jenis tanah, tetapi dalam kondisi tanah yang gembur dan berdraminasi baik dengan pH 5-8. (Anonim, 2011).
D.    Nilai medis
Buah mangga mengandung gula dan sedikit asam. Mangga mengandung sejumlah asam galat yang baik bagi isi saluran pencernaan. Sangat baik untuk disinfektan oleh tubuh sehingga melindungi tubuh dari serangan infeksi. Mengurangi kelebihan panas dan mampu membersihkan aliran darah. Kandungan kimia yang terkandung dalam mangga yaitu vitamin C, karoten, dan favonoid yang tinggi yang berfungsi sebagai antioksidan, dan salah satunya adalah untuk mencegah kanker. (Anonim, 2011).
E.     Nilai komersial
Selain dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, mangga juga dimanfaatkan sebagai makanan penutup. Selain itu buah mangga banyak dimanfaatkan sebagai buah meja atau campuran es dalam bentuk irisan atau blender. Buah yang mudah kerap kali dijadikan sebagai rujak atau dijajahkan ditepi-tepi jalan, dibelah dan dilengkapi dengan bumbu garam dan cabai atau biasa kita kenal dengan manisan mangga dengan harga berkisar Rp 500 – Rp 1.500 perbiji. Selain itu biji mangga dapat dijadikan pekan ternak atau unggas dan kayunya dapat dijadikan arang dan sebagainnya. (Anonim, 2011).
3.      Kembang merak (Caesalpinia pulcherrima)
A.    Morfologi
            Kembang merak (Caesalpinia pulcherrima) merupakan tanaman yang mempunyai daun majemuk menyirip ganda dua sempurna karena pertulangan daunnya menyirip dan mempunyai anak daun yang berpasang-pasangan di kanan dan kiri ibu tulang daun, serta anak daunnya duduk pada ibu tangkai daun. Bentuk bangun daun (circumscriptio) yaitu jorong (ovalis), dengan ujung daunnya (apex folii) membulat (rotundatus). Margo folii rata (integer) karena pada tepi daunnya, tidak terdapat torehan atau lekukan. Pertulangan daun (nervatio) pada tumbuhan ini, adalah menyirip (penninervis) dengan daging daun (intervenium) membranaceus. (Gombang, 2011).
B.     Klasifikasi
Kembang merak (Caesalpinia pulcherrima) mempunyai tingkat klasifikasi sebagai berikut:
Ø  Kindom    :  Plantae
Ø  Devisio    :  Spermatophyta
Ø  Kelas        :  Dicotyledoneae
Ø  Ordo         :  Fabales
Ø  Fami         :  Fabaceae
Ø  Genus       :  Caesalpinia
Ø  Spesies     :  Caesalpinia pulcherima
(Plantamor, 2011).
C.    Ekologi
Kembang merak biasanya tumbuh didaerah yang berbukit dengan ketinggian mencapai 1700 m diatas permukaan laut. Tanaman ini membutuhkan curah hujan sekitar 700 sampai 4300 mm3 /tahun  untuk pertumbuhannya, serta kelembapan udara antara 50–76%. Agar pertumbuhan baik, tanaman ini membutuhkan pH sekitar 5–7,5 dan suhu sekitar 24 0C – 28 0C. (Anonim, 2011).
D.    Nilai medis
Caesalpina pulcherrima mengandung zat-zat kimia yang bermanfaat bagi tubuh diantaranya polifenol dan flanoida yang terdapat pada akar sehingga pada bagian ini dapat digunakan sebagai obat diare, demam dan kejang otot. Serutan kayunya juga dapat dimanfaatkan sebagai minuman untuk menguatkan lambung. Bunganya juga dapat dijadikan obat untuk melancarkan haid (Anonim, 2011).
E.    Nilai komersial
Caesalpinia pulcherrima memiliki nilai komersial yang tinggi, karena dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan juga sebagai pagar, namun belum banyak diperjual belikan. Tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pematangan buah papaya dan mangga, juga dapat dimanfaatkan sebagai warna merah minuman, selain itu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam pembuatan teh. (Anonim, 2011).
4.        Kacang Panjang (Vigna sinensis)
A.   Morfologi
Tanaman kacang panjang merupakan tanaman semak, menjalar, semusim dengan tinggi kurang lebih 2,5 m. Batang tanaman ini tegak, silindris, lunak, berwarna hijau dengan permukaan licin. Daunnya majemuk, lonjong, berseling, panjang 6-8 cm, lebar 3-4,5 cm, tepi rata, pangkal membulat, ujung lancip, pertulangan menyirip, tangkai silindris, panjang kurang lebih 4 cm, dan berwarna hijau. Bunga tanaman ini terdapat pada ketiak daun, majemuk, tangkai silindris, panjang kurang lebih 12 cm, berwarna hijau keputih-putihan, mahkota berbentuk kupu-kupu, berwarna putih keunguan, benang sari bertangkai, panjang kurang lebih 2 cm, berwarna putih, kepala sari kuning, putik bertangkai, berwarna kuning, panjang kurang lebih 1 cm, dan berwarna ungu. Buah tanaman ini berbentuk polong, berwarna hijau, dan panjang 15-25 cm. Bijinya lonjong, pipih, berwarna coklat muda. Akarnya tunggang berwarna coklat muda (Hutapea et al., 1994).

B.  Klasifikasi 
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Angiospermae
Classis             : Dicotyledoneae
Ordo                : Rosales
Familia : Fabaceae
Genus              : Vigna
Spesies             : Vigna sinensis
(Plantamor, 2011)

C.  Ekologi
Sumber genetik (plasma nutfah) tanaman kacang panjang diduga berasal dari India atau Cina. Namun beberapa literatur menduga bahwa asal- usul tanaman ini berasal dari kawasan benua Afrika. Tanaman tumbuh baik pada tanah Latosol / lempung berpasir, subur, gembur. Banyak mengandung bahan organik, dan drainasenya baik, pH sekitar 5,5-6,5. Suhu antara 20-30 derajat Celcius, iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun dan ketinggian optimum kurang dari 800 m diatas permukaan laut (Rukmana, 1998).

D.  Nilai medis
Kacang panjang mengandung enam antosianin (sianidin 3-O-galaktosida, sianidin 3-O-glukosida, delfinidin 3-O-glukosida, malvidin 3-O-glukosida, peonidin3-O-glukosida, dan petunidin 3-O-glukosida), flavonol atau glikosida flavonol (kaempferol 3-O-glukosida, quersetin, quersetin 3-O-glukosida, kuersetin 3-O-6′-asetilglukosida), aglikon flavonoid.  Daun dan akarnya mengandung saponin dan polifenol. Selain itu juga mengandung protein, karbohidrat, lemak, serat, kalsium, besi, fosfor, potasium, sodium, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, dan niasin. Kandungan senyawa-senyawa di dalam kacang panjang ini berperan dalam proses proliferasi, diferensiasi, dan sintesis protein di sel target yang berbeda-beda. Secara empiris, tanaman kacang panjang dimanfaatkan untuk merawat dan memperbesar payudara. (Aryati, 2001).




E.     Nilai komersial
Sebagai salah satu jenis sayuran, kacang panjang diperdagangkan dalam jumlah besar. Kacang panjang sangat mudah ditemukan hampir di semua pasar – pasar tradisional di Indonesia. Bahkan kacang panjang dapat pula ditemukan di mall dan super market. Harga kacang panjang pun relatif murah, biasanya dijual Rp 1000/ikat dan dapat dijangkau oleh semua kalangan ekonomi (Anonim, 2011).

5.    Kelor (Moringa oleifera)
A.  Morfologi
Tanaman kelor merupakan daun majemuk menyirip gasal rangkap tiga tidak sempurna, duduk daun tersebar atau di sebut folio sparsa. Pohon kelor bengkok, tinggi 3-10 m, dengan tajuk yang tidak rapat; poros daun beruas, dengan kelenjar yang berbentuk garis lurus; sirip dari orde pertama 8-10 pasang. Anak daun bertangkai,  sisi bawah hijau pucat,  biji berbentuk bola, Daun bersirip tak sempurna, kecil, berbentuk telur, sebesar ujung jari. Helaian anak daun berwarna hijau sampai hijau kecoklatan, bentuk bundar telur atau bundar telur terbalik, panjang 1 cm sampai 3 cm, lebar 4 mm sampai 1 cm, ujung daun (apex) tumpul (obtusus), pangkal daun membulat, tepi daun rata. Tangkai daun 1 mm sampai 3 mm. Kulit akar berasa dan berbau tajam dan pedas, dari dalam berwarna kuning pucat, bergaris halus, tetapi terang dan melintang. Tidak keras, bentuk tidak beraturan, permukaan luar kulit agak licin, permukaan dalam agak berserabut, bagian kayu warna cokelat muda, atau krem berserabut, sebagian besar terpisah. (Rukmana, 1998).

B. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari tanaman Moringa oleifera yaitu:
Kingdom     :  Plantae                       
Divisi           :  Spermatophyta
Kelas            :  Dicotyledoneae          
Ordo            :  Capparales
Famili          :  Moringaceae              
Genus          :  Moringa
Spesies         :  Moringa oleifera
(Plantamor, 2011)

C. Ekologi
Moringa oleifera (kelor) berasal dari kawasan sekitar Himalaya dan india, kemudian menyebar ke kawasan di sekitarnya sampai ke benua Afrika dan Asia barat. Kelor dapat tumbuh di daratan rendah maupun tinggi sampai di ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Dengan curah hujan 1500 – 2000 mm3 per tahun, suhu rata-rata 22 - 25°C. tingkat kelembaban 60 – 80 % dan pH 5 – 8,7, (Gembong 1958).

D.  Nilai medis
Sebagai tanaman berkhasiat obat, tanaman kelor mulai dari akar, batang, daun, dan bijinya, sudah dikenal sejak lama di lingkungan pedesaan. Seperti akarnya, campuran bersama kulit akar pepaya kemudian digiling-dihancurkan, banyak digunakan untuk obat luar (balur) penyakit beri-beri dan sebangsanya. Daunnya ditambah dengan kapur sirih,  juga merupakan obat kulit seperti kurap dengan cara digosokkan. Sedangkan sebagai obat dalam, air rebusan akar ampuh untuk obat rematik, epilepsi, antiskorbut, diuretikum, sampai ke obat gonorrhoea. Kelor  mengandung  protein sekitar 27 persen dan kaya akan   Vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B3, Vitamin C, Calcium, Chromium, Copper, Iron, Magnesium, Manganese, Potassium, Protein, Zinc, Isoleucine, Leucine, Lysine, Methionine, Phenylalaine, Threonine, Tryptophan, Valine, Alanine, Arginine, Aspartic Acid, Cystine, Glutamic Acid, Glycine, Histidine, Serine, Proline, Tryrosine. (Budi sutomo,2008).


E. Nilai komersial
Di pasar lokal, komoditas kelor dijual dalam bentuk buah polong segar. Polong biji yang masih hijau dapat dipotong-potong menjadi bagian yang lebih pendek dan dapat dikalengkan atau dibotolkan dalam medium larutan garam dan menjadi komoditas ekspor khususnya ke Eropa dan Amerika Serikat. (Budi sutomo,2008).

















BAB III
METODOLOGI
A.       Waktu dan  tempat
Hari / tanggal     : Sabtu, 02  April 2011
Pukul                  : 13.00 – 17.00 WITA
Tempat               : Laboratorium Biodiversity FMIPA UNTAD
B.        Alat dan bahan
Adapun alat dan bahannya adalah sabagai berikut:
1.      Buku gambar
2.      Alat tulis menulis
3.      Daun Rosa sinensis
4.      Daun Mangifera indica
5.      Daun Caesalpinia pulcherrima
6.      Daun Vigna sinensis
7.      Daun Moringa oleifera
C.       Prosedur kerja
1.        Menuliskan nama spesies dan family tumbuhan.
2.        Menggambar dan memberi keterangan bagian-bagiannya
§   Helaian daun (lamina)
§   Tangkai daun (petiolus)
§   Ibu tangkai (petiolus communis)
§   Anak daun (foliolum)
§   Circumscriptio
§   Intervenium
§   Margo
§   Apex
§   Basis
§   Permukaan daun
§   Nervatio
§   Dudukan daun
§   Tersebar (folio sparsa)
§   Berkarang (folio ferticilata)
§   Berhadap-hadapan (folio decurata)
§   Berseling (folio disticha)
3.      menentukan susunan daun majemuk
§   Menyirip ganjil (imparipinnatus)
§   Menyirip genap (abrupte pinnatus)
§   Menyirip berseling
§   Menyirip berdaun ganda, dua, tiga, dst
§   Menyirip berdaun satu (unifoliolatus)
§   Menjari berdaun satu, dua, tiga dst
§   Menjari ganda dua (bibifoliolatus)
§   Majemuk menyirip ganjil rangkap tiga
§   Majemuk campuran (digitato pinnatus)












B.  Pembahasan
1.      Kacang Panjang (Vigna sinensis)
Kacang Panjang (Vigna sinensis) tergolong  tumbuhan berdaun majemuk,  karena memiliki helaian daun (lamina), tangkai daun (petiolus), anak daun (foliolum), dan ibu tangakai daun (petiolus communis). Kacang panjang merupakan tumbuhan dari famili Fabaceae yang memiliki bangun daun (circumcriptio) ovatus atau umum disebut dengan bangun bulat telur. Selain itu, kacang panjang juga memiliki intervenium atau daging daun membranaceus yang tipis seperti selaput.  Bagian margo folii atau tepi daun dari kacang panjang berbentuk integer dan basis folii atau pangkal daun berbentuk obtusus atau berbentuk tumpul. Pada bagian apex folii atau ujung daunnya berbentuk acutus atau runcing. Permukaan daun dari kacang panjang berbentuk scaber atau kasap sedangkan  bentuk nervatio atau susunan tulang-tulang daun berbentuk palminervis atau menjari. Sedangkan duduk daun dari kacang panjang yaitu berseling (folio desticha). Kacang panjang memiliki susunan daun majemuk menjari beranak daun tiga (trifoliolatus), dikatakan demikian karena semua anak daunnya berkumpul di ujung ibu tangkai daun dengan bentuk menjari dan jumlah anak daunnya 3 helai (trifoliolatus).

2.      Mawar (Rosa sinensis)
Mawar (Rosa sinensis) merupakan salah satu spesies tumbuhan dari famili Rosaceae. Mawar termasuk dalam tumbuhan yang memiliki susunan daun majemuk menyirip ganjil (imparipinatus). Dikatakan demikian karena mawar memiliki jumlah anak daun (foliolum) yang ganjil (5 helai) yang melekat pada ibu tangkai daun, salah satunya di ujung ibu tangkai sedangkan yang lainnya berpasangan. Selain itu, mawar memiliki circumcriptio atau bangun daun ovalis yaitu berbentuk jorong, intervenium atau daging daun papyraceus yang berbentuk tipis tetapi cukup tegar seperti kertas, margo folii yang berbentuk divisus atau lazim dikenal bertoreh dengan bentuk toreh serratus (bergerigi), apex folii dan basis folii yang runcing (acutus), permukaan daun yang berkerut atau rugosus, susunan tulang- tulang daun yang menyirip (penninervis), serta duduk daun yang saling berhadap- hadapan (folio oppsita).

3.      Kelor (Moringa oleifera)
Moringa oleifera atau yang biasa dikenal dengan kelor ini  merupakan daun majemuk menyirip gasal rangkap tiga tidak sempurna karena masih ada anak daun yang duduk pada ibu tangkai. Tumbuhan ini dikatakan majemuk karena terdapat beberapa tangkai cabang dan tiap cabangnya terdiri satu atau lebih helaian daun. Dikatakan menyirip karena anak daunnya berada di sebelah kanan dan kiri ibu tangkai daun sehingga tersusun seperti sirip ikan. Dikatakan gasal karena terdapat anak daun yang menutupi ujung ibu tangkainya, dan dikatakan rangkap tiga tidak sempurna karena anak daunnya duduk pada cabang tingkat dua dari ibu tangkai dan masih ada anak daun lagi yang duduk langsung pada ibu tangkainya. Kelor memiliki deskripsi circumscriptio atau bangun daun berbentuk  ovatus dikatakan begitu karena bentuk daunnya seperti bulat telur, pada  nervatio (pertulangan daun) penninervis (menyirip), intervenium (daging daun) membranaceus (seperti selaput), apex folii (ujung daun) acutus (runcing), basis folii (pagkal daun) obtusus (tumpul), margo folii (tepi daun) integer (rata), dan permukaan daun scaber (kasap).

4.       Mangga (Mangifera indica)
Mangga (Mangifera indica) merupakan tumbuhan yang memiliki daun tunggal karena pada satu daunnya hanya terdapat satu helaian daun saja (folim simplex). Selain itu daun mangga memiliki bentuk pertulangan daun (nervatio) yaitu menyirip (penninervis), memiliki bentuk daun (circumscriptio) memanjang (oblongus), karena perbandingan panjang dan lebar daunnya adalah 2 1/2 -  3 : 1, bentuk ujung daunnya (apex folii) acutus (runcing), pangkal daunnya (basis folii) pada tumbuhan ini yaitu acutus (runcing), memiliki permukaan daun scaber (kasap), bentuk tepi daunnya (margo folii) tidak bertoreh atau rata (integer), memiliki daging daun  (intervenium) seperti perkamen (perkamenteus) karena daunnya tipis tetapi cukup kaku, serta memiliki duduk daun tersebar karena pada tiap-tiap buku daunnya terdapat satu daun.

5.      Kembang merak (Caesalpinia pulcherrima)
Kembang merak (Caesalpinia pulcherrima) merupakan tanaman yang mempunyai daun majemuk menyirip genap ganda dua sempurna. Dikatakan majemuk karena terdapat ibu tangkai dan cabang tangkai dan tiap cabangnya terdiri satu atau lebih helaian daun, dikatakan menyirip genap karena anak daunnya berpasang-pasangan di sebelah kanan dan kiri cabang tangkai daun sehingga tersusun seperti sirip ikan. Dikatakan ganda dua karena anak daunnya duduk pada cabang tingkat satu dari ibu tangkai, dan dikatakan sempurna karena tidak ada satu anak daun pun yang duduk pada ibu tangkai. Duduk daun tanaman ini adalah berhadap-hadapan (folio oppsita). Bentuk bangun daun (circumscriptio) yaitu jorong (ovalis), dengan ujung daunnya (apex folii) membulat (rotundatus). Margo folii rata (integer) karena pada tepi daunnya, tidak terdapat torehan atau lekukan. Pertulangan daun (nervatio) pada tumbuhan ini, adalah menyirip (penninervis) dengan daging daun (intervenium) membranaceus (tipis seperti selaput).







BAB V
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan, maka kami berkesimpulan bahwa suatu tumbuhan dapat dikatakan sebagai tumbuhan berdaun majemuk yaitu dimana helaiannya (lamina) tersusun oleh sejumlah bagian – bagian terpisah yang berbentuk daun dan disebut anak daun (foliolum). Daun majemuk dapat dibedakan dalam 4 (empat) golongan antara lain : daun majemuk menyirip (pinnatus), daun majemuk menjari (palmatus), daun majemuk bangun kaki (pedatus), dan daun majemuk campuran (digitato piñatas). Sedangkan daun tunggal yaitu daun yang pada tangkai daunnya hanya terdapat satu helaian daun saja.

B.       Saran
Saya selaku praktikan berharap kepada asisten agar dapat membantu praktikannya dalam kegiatan praktikum sehingga dapat menghindari kesalahan dalam kegiatan praktikum. Selain itu, saya berharap agar kegiatan praktikum dapat dilaksanakan tepat pada waktu yang telah ditentukan agar praktikan dapat menyelesaikan segala tugas yang diberikan didalam laboratorium.



DAFTAR PUSTAKA
Albert john, 1897, (Rosa sinensis) (online) http://www.wetlands.or.id/mangrove_species.php?id=50, Diakses pada Tanggal 4 April 2011.
Plantamor, 2011, (Mangifera indica) (online) http://www.Plantamor.com/index.php?plant=225, Diakses pada tanggal 4 April 2011.
Plantamor, 2011, (Caesalpinia pulcherima) (online) http://www.Plantamor.com/index.php?plant=225, Diakses pada tanggal 4 April 2011.
Plantamor, 2011, (Moringa oleifera) (online) http://www.Plantamor.com/index.php?plant=235, Diakses pada tanggal 4 April 2011.
Plantamor, 2011, (Vigna sinensis) (online) http://www.Plantamor.com/index.php?plant=225, Diakses pada tanggal 4 April 2011.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Cetakan ketiga belas.       Yogyakarta: Gadjah Mada University PRESS
Yudianto, Suroso Adi. 1992. Mengerti Morfologi Tumbuhan. Edisi pertama. Bandung: PT Tarsito






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar