Pages

Senin, 06 Februari 2012

menentukan kadar asam lemak bebas


PERCOBAAN II
LIPID

I.         Tujuan percobaan
1.    Menentukan kadar asam lemak bebas (FFA) yang terdapat pada minyak
2.    Menentukan bilangan peroksida pada minyak

II.      Tinjauan pustaka
Lemak dan minyak merupakan yang termasuk dalam golongan lipid lemak merupakan penghasil energi terbesar. Dalam setiap 1gram lemak yang dioksidasi akan menghasilkan kurang lebih 9,3 kalori. Fungsi lemak yang lain adalah sebagai pelarut vitamin, pelindung alat-alat tubuh, penahan rasa lapar karena lemak membutuhkan waktu yang lama untuk dicerna dan sebagai penyedap makanan. Seperti halnya karbohidrat lemak tersusun atas unsur karbon C, hidrogen (H), oksigen (O) dan kadangkala ditambah fosfor (P) serta nitrogen (N). Tidak seperti karbohidrat dan protein, lemak tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik (Girinda, 1986).
Asam lemak juga dapat dibedakan berdasarkan ikatan atom C penyusunnya. Berdasarkan ikatan atom C penyusunnya pada asam lemaknya terdapat asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Didalam tubuh lemak mengalami metabolisme. Lemak akan dihidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol dengan bantuan enzim lipase. Jika dipecah (hidrolisis) lemak akan menghasilkan 3 molekul dan satu molekul gliserol, sehingga lemak juga dikenal sebagai trigliserida (purnomo, 2003).
Stuktur lipid ditandai oleh relatif kurangnya mengandung oksigen. Lemak hampir semua terdiri dari karbon (C) dan hidrogen (H) yang menyebabkannya hidrofobik dan hampir semuanya tidak dapat bercampur dengan air. Lemak juga lebih banyak mengandung energi karena proses oksidasinya lebih jauh dari pada karbohidrat (Amwila 1992).
Menurut poedjiadi (1994) asam lemak adalah asam organik yang terdapat sebagai ester gliserida atau lemak, baik yang berasal dari hewan atau tumbuhan. Asam ini adalah asam karboksilat yang mempunyai rantai karbon panjang dengan rumus
       O
       
  R- C- OH

Menurut Wirahadikusumah (1985), beberapa peranan biologi yang penting dari lipid adalah :
1.      Komponen struktur membran.
2.      Lapisan pelindung pada beberapa jasad.
3.      Bentuk energi cadangan.
4.      Komponen permukaan sel yang berperan dalam proses interaksi antara sel dengan senyawa kimia di luar sel, seperti dalam proses kekebalan jaringan.
5.      Sebagai komponen dalam proses pengangkutan melalui membran.












III.   Metodologi
3.1  Alat
1.        Erlenmeyer 100 ml
2.        Gelas ukur 100 ml
3.        Buret 50 ml
4.        Pipet tetes
5.        Statif dan klem
6.        Neraca ohaus
7.        Penangas air
8.        Corong
9.        Gelas kimia 100 ml
3.2  Bahan
1.    Minyak bimoli
2.    Minyak kelapa
3.    Minyak VCO (Virgin coconut oil)
4.    Minyak zaitun
5.    KI jenuh
6.    Na2S2O0,1 N
7.    Asam asetat-kloroform 3:2
8.    Etanol 95 %
9.    Indikator PP
10.     Indikator amilum
11.     Larutan NaOH 0,1 N
12.     Aquadest

3.3     Prosedur kerja
     a. Asam lemak bebas (FFA)
1.      Menimbang sebanyak 10 gram sampel ke dalam Erlenmeyer 250  ml lalu menambahkan dengan 25 ml etanol panas dan 3 tetes indikator PP.
2.      Mentitrasi sampel dengan larutan NaOH 0,1 N (yang telah   distantarisasi) sampai larutan berwarna pink.
3.      Mencatat volume NaOH yang digunakan dan menghitung %FFA    menggunakan rumus :

ml NaOH x N x BM asam lemak
%FFA =------------------------------------------------x 100
Berat sampel x 1000


         b. Bilangan peroksida (Rancidity)  
1.      Menimbang 5 gr sampel ke dalam Erlenmeyer 250 ml lalu   menambahkan 30 ml larutan asam asetat kloroform menggoyang larutan sampai bahan larut semuanya dan menambahkan 0,5 ml KI jenuh.
2.      Menambahkan selama 1 menit sambil digoyang kemudian menambahkan 30 aquadest.
3.      Menitrasi  larutan dengan Na2S2O3 0,1 N sampai warna kuninghampir   hilang, lalu menambahkan 0,5 ml indikator amilum. Melanjutkan titrasi sampai warna biru hilang.
4.       Bilangan peroksida dinyatakan dalam mili ekuivalen dari peroksida dalam setiap gram sampel menggunakan rumus :
                        
                                 ml Na2S2O3 x N x 1000
Bilangan peroksida =-------------------------------------
                            Berat sampel
                         



IV.   Hasil Pengamatan
4.1     Asam Lemak
No
Sampel
Volume NaOH
Warna
1
Minyak bimoli
0,5 mL
Ungu
2
Minyak kelapa
1 mL
Ungu muda
3
Minyak zaitun
0,1 mL
Pink
4
Minyak VCO
1 mL
Pink muda

4.3     Bilangan peroksida
No
Sampel
Volume Na2S2O3
Warna
1
Minya kelapa
1,8 mL
Keruh
2
Minyak VCO
0,7 mL
Keruh
3
Minyak zaitun
42,9 mL
Keruh
4
Minyak bimoli
1 mL
Keruh












V. Analisis Data
     5.1 Asam Lemak bebas (FFA)
Rumus :
   ml NaOH x N x BM asam lemak
%FFA = ------------------------------------------ x 100
  Berat sampel x 1000

1.      Minyak bimoli
BM asam lemak (asam oleat) = CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH
= (18 x 12) + (34 x 1) + (2 x 16)
            = 216 + 34 + 32
= 282
      1,5 ml x 0,1 x 282
%FFA =--------------------------- x 100
10 gr x 1000
=  0,141  %

2.        Minyak kelapa kampung 
BM asam lemak (asam laurat) = CH3(CH2)10COOH
              = 144 + 24 + 32
= 200
     1 ml x 0,1 x 200
%FFA =---------------------- x 100
10 gr x 1000
=  0,2 %
3.        Minyak VCO
BM asam lemak (asam laurat)   = CH3(CH2)10COOH
= 144 + 24 + 32
= 200
       1 ml x 0,1 x 200
%FFA = ----------------------- x 100
10 gr x 1000

FFA =  0,2 %
4.        Minyak zaitun
BM asam palmitat = CH3(CH2)14COOH
                                                    = 192+ 32 + 32
                                                    = 256
    0,1 ml x 0,1 x 256
FFA = -------------------------- x 100
10 gr x 1000

  =  0,256 %

5.2  Bilangan peroksida
Rumus:                              
                                                         ml Na2S2O3 x N x 1000
Bilangan peroksida =--------------------------------
                                                   Berat sampel

1.    Minyak bimoli
                                                         1 ml x 0,1 x 1000
Bilangan peroksida =--------------------------
                                                         2,5        
    = 40 ml grek/gr
2.   Minyak kelapa
                                                         1,8 ml x 0,1 x 1000
Bilangan peroksida =---------------------------
                                                          2,5
  = 7,2 ml grek/gr

3.   Minyak zaitun
                                                         42,9 ml x 0,1 x 1000
Bilangan peroksida =------------------------------
                                                         2,5
  = 17,6 ml grek/gr
4.   Minyak VCO
                                                         0,7 ml x 0,1 x 1000
Bilangan peroksida =----------------------------
                                                          2,5
  = 28  ml grek/gr

























VI.   Pembahasan
Telah kita ketahui bahwa senyawa lipida merupakan salah satu senyawa organik yang berfungsi  sebagai sumber energi bagi tubuh untuk melakukan aktivitas, dan senyawa ini bersifat nonpolar yaitu senyawa yang tidak larut dalam air. Golongan dari senyawa lipida yaitu lemak dan minyak, namun dalam percobaan ini yang ingin diketahui adalah kandungan asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak, yaitu minyak bimoli, minyak kelapa kampung, minyak VCO dan minyak zaitun.
Dalam praktikum II yaitu mengenai lipid, yang harus dilakukan pertama yaitu menimbang sampel yang bertujuan agar minyak yang digunakan sesuai dengan berat sampel yang dibutuhkan dalam percobaan. Selanjutnya penambahan dengan etanol panas tujuannya yaitu untuk melarutkan minyak karena etanol panas dapat melarutkan sedikit minyak, dan penambahan  indikator PP yaitu untuk menunjukan  titik akhir titrasi, kemudian dilakukan titrasi dengan NaOH 0,1 N bertujuan untuk menetralkan asam lemak bebas hasil hidrolisis.
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui pengaruh kuantitas minyak terhadap kadar asam lemak bebas (FFA), yaitu untuk minyak zaitun kadar asam lemak bebas yang terkandung didalamnya sangat rendah dibandingkan dengan minyak kelapa kampung,minyak bimoli dan minyak virgin coconut oil (VCO). Minyak bimoli kadar asam lemak bebas (FFA) yaitu 0,141 %, sedangkan asam lemak bebas yang terdapat pada minyak kelapa kampung dan minyak VCO sama yaitu 0,2%. Dengan demikian dapat diketahui pengaruh kuantitas minyak terhadap kadar %FFA, yaitu semakin tinggi kadar FFA maka kualitas suatu minyak makin buruk, karena kadar FFA pada minyak sangat dipengaruhi oleh kadar air dan suhu penyimpanan minyak. Semakin tinggi kadar air dan suhu penyimpanan, memungkinkan minyak teroksidasi dan menurunkan kadar FFA suatu minyak yang biasanya berbau tengik.
      Telah dijelaskan bahwa  kadar asam lemak bebas (FFA) yang terdapat dalam minyak kelapa kampung dan minyak VCO sama yaitu 0,2 %, karena minyak kelapa kampung dan minyak VCO komposisi dasar minyak ini adalah kelapa sehingga kandungan asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak tersebut sama.
Berdasarkan percobaan didapatkan kadar asam lemak bebas pada masing-masing sampel yaitu pada minyak bimoli 0,141%, minyak kelapa 0,2% dan minyak saitun 0,0256%. Hal ini tidak sesuai dengan literatur, karena menurut literatur (Anonim, 2008) kadar asam lemak bebas (FFA) pada minyak bimoli 2%, minyak kelapa 5%, dan minyak saitun 1,8%. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengaruh kuantitas minyak terhadap kadar-kadar asam lemak bebas. Namun pada minyak VCO hasil yang diperoleh sesuai dengan literatur yaitu 0,2% karena dalam literatur (Timoti,2005) kadar asam lemak bebas (FFA) pada minyak VCO yaitu 0,2%. Berdasarkan hasil percobaan  ini, maka kita ketahui bahwa minyak yang paling baik adalah minyak zaitun karena kadar asam lemak bebas (FFA) yang terkandung sedikit. Sedangkan menurut anonim (2011) minyak yang paling baik adalah minyak VCO. Hal ini tidak sesuai dengan literatur. Ketidaksesuaian ini mungkin disebabkan kurang teliti praktikan ketika melakukan percobaan.
Pada percobaan pengujian bilangan oksidasi perlakuan pertama yaitu menimbang 5 gram sampel kedalam Erlenmeyer sampel tersebut direaksikan dengan larutan asam asetat. Kloroform tujuannya untuk melarutkan minyak dalam larutan kemudian ditambahkan dengan larutan 0,5 ml KI jenuh tujuannya adalah untuk mengetahui jumlah bilangan peroksida yang ada dalam minyak. Selanjutnya didiamkan selama 1 menit kemudian ditambahkan dengan aquadest sehingga akan terbentuk misel-misel pada larutan minyak. Masing-masing larutan kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 sampai warna kuningnya hampir hilang tujuannya adalah untuk penentuan bilangan peroksida.
Selanjutnya setelah dititrasi semua larutan ditambahkan dengan larutan indikator amilum tujuannya adalah untuk menyerap iodin yang dibebaskan yang ditandai dengan perubahan warna menjadi biru. Hal ini disebabkan karena didalam minyak tidak terdapat amilum atau pati. Hal ini juga menandakan bahwa iodin tidak dapat diserap oleh amilum , sehingga warnanya tidak berubah menjadi biru. Terkecuali untuk minyak bimoli warnanya berubah menjadi biru, tetapi tidak stabil. Hal ini menunjukan bahwa pada larutan iodine terserap oleh amilum.
Bilangan peroksida digunakan untuk menganalisis sifat fisika dan kimia dari minyak. Nilai peroksida yang  diperoleh dari masing-masing sampel yaitu Minyak bimoli 40, Minyak kelapa 72, Minyak zaitun 17,6 dan Minyak VCO 28. Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah ml Na2S2O3 yang digunakan maka semakin besar pula nilai bilangan peroksida yang didapatkan.














VII. Penutup
        7.1 Kesimpulan
1)      Lemak dan minyak merupakan kelompok lipid yang tidak larut dalam    air tetapi larut dalam pelarut organik non polar.
2)      Minyak atau lemak apabila mengalami oksidasi maka senyawa peroksida yang dihasilkan akan meningkat.
3)      Semakin banyak jumlah ml NaS2O3 yang digunakan,maka semakin besar pula nilai bilangan peroksida yang didapatkan.
4)      Pengaruh asam lemak bebas (FFA) pada minyak yaitu semakin kecil kadar asam lemak bebas (FFA) maka semakin baik kualitas minyak sedangkan pengaruh bilangan peroksida pada miyak yaitu semakin tinggi bilangan peroksida maka semakin rendah kualitas minyak demikian pula sebaliknya.

7.2     Saran
Dalam praktikum diharapkan ketelitian dalam melaksanakan praktikum, agar tidak terjadi kesalahan. Oleh sebab itu kerjasamanya dalam praktikum ditingkatkan.













DAFTAR PUSTAKA
Amwila. 1992. Biokimia Nutrisi dan metabolisme. California state university. Fulerton.

Girindra,A. 1986. Biokimia I. Gramedia. Jakarta.

Purnomo. 2002. Struktur Komposisi Gizi. Fakultas Biolog Gadjahmada. Yogyakarta.

Poedjiadi,A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. VI-press. Jakarta

Raharjo,S.B. 2007. Kimia Untuk Kelas XII SMA dan MA. Wangsa Jatra Lestari.Solo.

Wirahadikusunmah, Muh. 1985, Metabolisme energi, karbohidrat dan lipid, ITB, Bandung.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar